Mengetahui Tokoh Kabupaten Kuningan: Arya Kemuning
Mengetahui Tokoh Kabupaten Kuningan: Arya Kemuning
Oleh
Grisaldi Nauval A
Kuningan adalah salah satu wilayah yang berada di timur Jawa Barat. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon di utara, Majalengka di barat, Brebes di sebelah timur, serta Ciamis dan Cilacap di sebelah selatan. Kabupaten ini mempunyai atap yang mempercantik dan membuat lingkungannya asri. Gunung Ciremai. Gunung itu seolah memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat Kabupaten Kuningan. Gunung terbesar di Jawa Barat ini menjadi salah satu icon di kota kuda.
Masyarakat Kuningan terkadang perlu menyebut kota Cirebon agar orang-orang dari luar daerah tahu. Meskipun tak banyak yang tahu dimana letak Kuningan. Kabupaten ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, mulai dari masa pra-aksara hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Kabupaten Kuningan adalah salah satu dari tiga wilayah tertua di Jawa Barat. Seperti yang dituliskan di atas kabupaten ini memiliki masa sejarah yang panjang mulai dari masa pra-aksara hingga kemerdekaan, bukti peninggalan masa pra-aksara masih bisa dilihat dan di amati hingga saat ini. Jenis artefak yang berasal dari zaman Neolitikum dengan tradisi megalitik seperti dolmen, menhir, peti kubur batu, dan altar batu yang digunakan untuk ritual atau pemujaan pada nenek moyang. Artefak ini bisa di jumpai di Desa Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan.
Sementara tempat bersejarah pada masa kemerdekaan pun masih ada dan terawat, sejarahnya selalu dituliskan di buku pelajaran dari SD hingga SMA karena peranan yang merupakan bagian dari runtutan kemerdekaan Indonesia. Gedung Perundingan atau kerap disebut Gedung naskah adalah salah satu peninggalan bersejarah bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan. Di tempat ini kesepakatan antara pemerintah Indonesia yang di wakili oleh Sutan Sjahrir dan kawan-kawan, sementara Belanda di wakili oleh Wim Schermerhorn dan lainnya. Perundingan ini menghasilkan
• Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera,dan Madura.
• Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
• Pihak Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS).
Jika ditarik jauh pada masa Hindu-Budha wilayah ini adalah daerah kekuasaan dari Kerajaan Galuh yang letaknya di daerah Ciamis Jawa Barat. Namun menurut carita parahyangan di wilayah Kuningan juga pernah ada kerajaan Hindu bernama Sawunggalah sekitar tahun 730an Masehi yang berpusat di Sagarahyang. Menurut beberapa sumber Kerajaan ini pernah di kuasai oleh Sri Maharaja Sanjaya (Pendiri Kerajaan Medang/Mataram Kuno) Sebelum membalaskan dendamnya pada sang paman di Kerajaan Galuh. Ada juga yang mengatakan Sawunggalah adalah salah satu kerajaan bawahan dari kerajaan Galuh, yang dulu di kuasai oleh Sanjaya. Selanjutnya kerajaan Kuningan pada masa itu menjadi daerah bawahan Kerajaan Padjadjaran akhirnya bergabung dengan Cirebon.
Letaknya yang berbatasan langsung dengan Cirebon membuat wilayah ini cepat menerima ajaran agama Islam sekaligus berada dalam kekuasaan Kesunanan Cirebon. Hal ini terjadi tak lepas dari peranan sunan Gunung Jati yang menyiarkan agama Islam dan diterima oleh penguasa daerah luragung pada masa itu bernama Ki Gede Kemuning dari Winduherang, Luragung. Membuat rakyatnya pun masuk Islam dengan sukarela dan berjalan dengan damai. Sebagai pengikat tali silaturahmi sunan Gunung Jati dan ratu Rara Sumanding (Ong tien) mengangkat putera Ki Gede Kemuning, Arya Kemuning sebagai putera mereka dan ketika dewasa diberi gelar Pangeran Kuningan lalu diangkat sebagai penguasa Kajene (nama sebelum kuningan) yang kemudian berganti nama menjadi Kuningan dengan gelar Adipati Ewangga. Sumber lain menyatakan Arya Kemuning dan adipati Ewangga adalah orang yang berbeda. Arya kemuning atau Raden kemuning adalah anak kandung dari Sunan Gunung Jati dari Rara Sumanding (Ong tien) karena budaya Cirebon menyatakan seseorang yang bisa disebut pangeran harus keturunan langsung dari penguasa pada masa itu, Sunan Gunung Jati. Sementara Adipati Ewangga adalah seorang yang berasal dari Sunda parahyangan Cianjur, mencari Sunan Gunung Jati karena tertarik pada islam, lalu ditugaskan untuk menjadi pendamping Arya Kemuning yang berada di Kuningan.
Sang Adipati Kuningan yang Merupakan putra Sunan Gunung Jati Adalah kepala daerah pertama yang Pengangkatan dan pengesahannya Dilakukan oleh Sunan Gunung Jati, sebagai Sultan Cirebon periode 1479-1568. Pelantikan Arya kemuning menjadi Adipati Kuningan diselenggarakan pada tanggal 4 Syura (Muharam). Penanggalan tersebut Bertepatan dengan tanggal 1 September 1498 Masehi. Selanjutnya tanggal 1 September ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Kuningan
Tak hanya disematkannya gelar Pangeran dan titel Adipati yang diberikan, Arya kemuning juga diberikan wewenang untuk pengelolaan wilayah dan sumber daya, sebagai mana diketahui komoditas utama dari pelabuhan Cirebon ialah hewan-hewan yang dapat di ternakkan. Salah satunya Kuda yang didatangkan dari Kesultanan Bima untuk kerajaan-kerajaan Islam di Jawa termasuk Cirebon. Melihat Kuningan adalah tempat yang cocok untuk budidaya kuda maka di bawalah kuda-kuda itu dan dikembangkan di kabupaten Kuningan, sampai salah satunya menjadi tunggangan utama Arya kemuning yang di kenal dengan nama “si windu” untuk membela dan menyebar luaskan ajaran Kesunanan Cirebon. Hal ini juga yang bisa menjawab mengapa Kabupaten Kuningan dikenal sebagai kota kuda.
Peranan tokoh Arya kemuning pada masa kejayaan Cirebon tak sedikit. Salah satu kehebatannya adalah keberhasilan saat menaklukan Sunda Kelapa melawan Portugis yang bekerja sama dengan Kerajaan Padjadjaran (1527) Pasukan Kuningan yang bergabung dengan Cirebon-Demak serta Banten mengepung Sunda Kelapa dan akhirnya memenangi pertempuran dan berhasil merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti “kota kemenangan”. Hingga saat ini nama Kuningan menjadi salah satu wilayah di Jakarta selatan.
Keberhasilan yang di dapat oleh Pangeran Kuningan sekaligus Adipati Cirebon ini membuat namanya masuk radar pengganti Sunan Gunung Jati. Sayangnya namanya perlahan dihapuskan karena kegagalan saat penaklukan Indramayu dan Rajagaluh. Di ceritakan Pangeran Kuningan memohon pada Sunan Gunung Jati untuk maju menaklukkan Indramayu yang saat itu dikuasai oleh Prabu Indra Wijaya. Meskipun tak di restui Pangeran Kuningan dan rakyatnya maju untuk menaklukkan Indramayu. Namun serangan ini gagal Arya kemuning tersesat dan hanya berputar-putar hingga akhirnya pasukan Cirebon datang dan menolong pasukan Kuningan. Setelah keluar ternyata Prabu Indrawijaya beserta petinggi Indramayu telah berada di Istana Pakungwati dan sukarela masuk Islam serta bergabung dengan kesunanan Cirebon.
Selanjutnya Pangeran Kuningan pun diceritakan gagal pada misi penaklukan Rajagaluh, Pasukannya mundur hingga Plered sebelum akhirnya pasukan Cirebon membantu dan berhasil memenangkan perang tersebut, akibat dari kegagalan yang diterima oleh Pangeran Kuningan membuat gelarnya Adipatinya dicopot dan namanya tercoret dari penerus kekuasaan Kesunanan Cirebon, membuat namanya meredup dan menjadi kepala daerah biasa yang mengurus wilayahnya sendiri.
Walaupun namanya seolah dilupakan, namun peranan bagi kesunanan Cirebon dan penyebaran Islam sangat besar. Tokoh seperti ini seakan lenyap dan tidak di kenalkan oleh Sekolah maupun lembaga lain Kabupaten Kuningan. Miris, memiliki sejarah yang panjang namun tak di kaji dan di populerkan. Seharusnya masyarakat dan pemerintah sadar akan pentingnya sejarah, dan perjalanan Kabupaten Kuningan ini.
Komentar
Posting Komentar